# NGAJI SERAT WULANGREH
GURU DALAM PERSPEKTIF SERAT WULANGREH
(pupuh
Dandhanggula dalam serat Wulangreh).
Guru atau Pendidik merupakan
kunci utama berhasilnya proses pendidikan, sehingga seorang guru dalam proses
mendidik seyogyanya bisa melibatkan emosi dan intuisi agar nanti bisa
melahirkan siswa yang cerdas secara
keilmuan, pintar berbicara/ mengemukakan ide, sekaligus pandai merasakan
(peka), dan mampu melaksanakan apa yang menjadi tugas kewajibannya sebagai
generasi penerus yang siap berjuang.
Sebagai seorang pendidik, guru
adalah subjek atau pelaku utama dalam dunia pendidikan, sosok yang bisa mengorbitkan pengetahuan, karakter, dan
mental kepada siswa atau peserta didiknya. Seorang pendidik juga harus bisa
menjadi objek yang senantiasa disirami ilmu pengetahuan dari berbagai sumber
untuk kemudian dirakit menjadi bahan informasi bagi peserta didiknya.
Untuk mewujudkan sosok guru
pendidik yang hakiki, maka dibutuhkan
usaha dan kesadaran dari dirinya, langkah pasti yang bisa dilakukan seorang
pendidik yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, ia harus mau disirami ilmu
pengentahuan, dengan kata laian guru harus memiliki semangat untuk senantiasa
belajar dari berbagai sumber yang bisa dijadikan sebagai rujukan atau acuan. Guru
bisa belajar dari salah satu karya sastra Jawa kuno yang dikenal dengan nama serat
Wulangreh, hasil karya Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Keraton Kasunanan
Surakarta Hadiningrat (1768 – 1820 M).
Serat Wulangreh ini terkenal hingga saat ini, isinya masih relevan dan dapat
dijadikan acuan perilaku hidup manusia Jawa khususnya, dan bisa untuk acuan
siapapun dari kalangan umum. Serat ini terdiri dari bait-bait tembang
macapat yang sarat akan nilai-nilai ajaran luhur, adapun ajaran yang dituliskan dalam serat ini meliputi
ajaran moral, ilmu pengetahuan dan agama
Salah satu bait macapat dalam
serat ini yang dapat dijadikan bahan
belajar maupun renungan seorang pendidik
adalah pupuh Dandanggula yang bunyinya sebagai berikut :
“Lamun sira hanggêguru
kaki, hamiliha sujanma kang nyata, ingkang bêcik martabate, sarta kang wruh ing
hukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur olèh wong tapa, ingkang wus
hamungkur, tan mikir pawèwèhing liyan, iku pantês sira guronana kaki, sartane
kawruhana”.
Terjemah bait tersebut : Apabila engkau
ingin berguru, pilihlah manusia yang nyata, yang bermartabat baik, dan yang
mengerti hukum, yang beribadah dan sederhana, syukur terlebih mendapatkan guru seorang pertapa,
yang telah lebih (ilmunya), dan tak lagi memikirkan pemberian
orang, sosok seperti itu pantas engkau
jadikan guru dan pantas diminta petunjuknya.
Menurut pemahaman kami, bait tembang tersebut memiliki
dua mata pisau atau dua target yang dituju sebagai sasaran. Sekilas, nampak
bait tersebut merupakan (1) nasihat untuk anak atau seorang siswa yang akan
belajar mencari ilmu, kepada siapa yang pantas untuk dijadikan guru. Seorang
siswa hendaknya jangan tergesa-gesa dan gegabah dalam mengambil/ mengangkat
seorang menjadi guru. Seorang siswa hendaknya mengambil atau menjadikan
seseorang sebagai gurunya bukan karena fisiknya yang gagah, tampan, cantik
maupun anggun yang selalu tampil rapi dan keren. Bukan pula karena orang
tersebut mahir/ menguasai satu disiplin ilmu tertentu yang membuat murid
terpukau kagum. Bukan pula karena orang tersebut kaya raya sering memberi
bahkan menuruti apa yang menjadi kebutuhan atau keinginan sang murid. Hal ini
menjadi suatu pengingat bahwa tidak semua orang bisa dijadikan sosok panutan
atau guru yang akan memberikan contoh dan membimbingnya ke jalan keutamaan.
Mengapa demikian...??? Kerena cukup banyak kejadian atau kasus yang bersangkut paut
dengan oknum guru di berbagai negeri, termasuk negeri kita. Ada oknum guru yang
ternyata malah berbuat yang tidak terpuji, berbuat asusila kepada anak
didiknya, berselingkuh, ada oknum guru yang malah merendahkan pekerjaan wali
murid, ada yang mengorupsi dana pendidikan sekolah, ada yang sering berkata
kotor/ tidak pantas dihadapan murid, wali murid, atau sesama guru, bahkan ada
oknum guru yang memukul atau menganiaya anak didiknya tanpa alasan yang jelas, dan
masih banyak lagi kasus yang dilakukan oleh seseorang yang berprofesi sebagai
guru. Maka sosok yang pantas dijadikan sebagai guru tentu harus memilili
kriteria khusus agar tujuan siswa berguru bisa tercapai sesuai harapan.
Bagi para guru, bait diatas dapat
dijadikan contoh pedoman untuk menjadi seorang guru yang baik, dan dapat
menjadi contoh untuk anak didiknya. Dengan
kata lain, hakikat isi bait tembang
tersebut ditujukan untuk target kedua
(2) yakni seorang guru. Seorang guru yang baik, ideal, dan professional
serta pantas dijadikan sebagai panutan setidaknya perlu memiliki 7 (tujuh) karakter, yaitu:
- Beraklaq mulia. Baik mulia perilaku perbuatannya, ramah beradap, memiliki tata krama, sopan santun kepada siapapun yang ia temui
- Paham dan sadar hukum. Mengetahui serta paham terhadap hukum yang berlaku yang harus ditaati dan dijunjung tinggi, mau juga mampu mengaplikasikan dalam kehidupan, baik hukum agama, negara maupun adat;
- Rajin beribadah. Ibadah wajib maupun sunnah ia laksanakan, dan senang menolong sesama;
- Memiliki rasa malu dan selalu menjaga kebersihan hati sanubari, senang berpuasa, mengurangi kebutuhan duniawi (zuhud);
- Dapat mengendalikan hawa nafsu. Yakni mengelola serta mengendalikan/ menahan hawa nafsu yang tidak baik, mengesampingkan perbuatan tidak baik yang akan mendzolimi dirinya maupun orang lain
- IKhlas bertugas. Senantiasa menata niat dan hatinya untuk berupaya ikhlas, tidak mengharapkan pemberian orang lain dalam bentuk apapun,
- Memberi sekaligus menjadi teladan. Selain tulus ikhlas dalam mendidik para siswa, guru haruslah sepi ing pamrih rame ing gawe, maksudnya banyak memberikan contoh keteladanan, banyak take action dan tindakan nyata daripada bertutur teori saja.
Demikianlah karakter sosok guru atau pendidik dalam perspektif serat Wulangreh, bila seorang guru mau berkaca sekaligus belajar memahami apa yang tertuang dalam serat ini, niscahya ia akan menjadi "guru sejati" yang akan selalu menginspirasi kebaikan karena keteladanan yang ia berikan kepada murid, ia juga akan membina serta membimbing siswa/ murid menuju jalan keutamaan dan menjauhi jalan kesesatan, ia juga akan banyak mencetak generasi penerus yang unggul dalam berbagai bidang, yang akan menjadi ujung tombak perjuangan mewujudkan kemajuan, kesejahteraan, serta kejayaan bangsa dan negara.
__________________
Oleh : Iin Solikhin,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar