Senin, 23 Oktober 2023

 

# NGAJI SERAT WULANGREH

GURU DALAM PERSPEKTIF SERAT WULANGREH




 “Lamun sira hanggêguru kaki, hamiliha sujanma kang nyata, ingkang bêcik martabate, sarta kang wruh ing hukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur olèh wong tapa, ingkang wus hamungkur, tan mikir pawèwèhing liyan, iku pantês sira guronana kaki, sartane kawruhana”.

(pupuh Dandhanggula  dalam serat Wulangreh).

Guru atau Pendidik merupakan kunci utama berhasilnya proses pendidikan, sehingga seorang guru dalam proses mendidik seyogyanya bisa melibatkan emosi dan intuisi agar nanti bisa melahirkan siswa yang  cerdas secara keilmuan, pintar berbicara/ mengemukakan ide, sekaligus pandai merasakan (peka), dan mampu melaksanakan apa yang menjadi tugas kewajibannya sebagai generasi penerus yang siap berjuang.

Sebagai seorang pendidik, guru adalah subjek atau pelaku utama dalam dunia pendidikan, sosok yang  bisa mengorbitkan pengetahuan, karakter, dan mental kepada siswa atau peserta didiknya. Seorang pendidik juga harus bisa menjadi objek yang senantiasa disirami ilmu pengetahuan dari berbagai sumber untuk kemudian dirakit menjadi bahan informasi bagi peserta didiknya.

Untuk mewujudkan sosok guru pendidik yang  hakiki, maka dibutuhkan usaha dan kesadaran dari dirinya, langkah pasti yang bisa dilakukan seorang pendidik yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, ia harus mau disirami ilmu pengentahuan, dengan kata laian guru harus memiliki semangat untuk senantiasa belajar dari berbagai sumber yang bisa dijadikan sebagai rujukan atau acuan. Guru bisa belajar dari salah satu karya sastra Jawa kuno yang dikenal dengan nama serat Wulangreh, hasil karya Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1768 – 1820 M).  Serat Wulangreh ini terkenal hingga saat ini, isinya masih relevan dan dapat dijadikan acuan perilaku hidup manusia Jawa khususnya, dan bisa untuk acuan siapapun dari  kalangan umum.  Serat ini terdiri dari bait-bait tembang macapat yang sarat akan nilai-nilai ajaran luhur, adapun ajaran  yang dituliskan dalam serat ini meliputi ajaran moral, ilmu pengetahuan dan agama

Salah satu bait macapat dalam serat ini yang dapat dijadikan  bahan belajar maupun renungan  seorang pendidik adalah pupuh Dandanggula yang bunyinya sebagai berikut :

“Lamun sira hanggêguru kaki, hamiliha sujanma kang nyata, ingkang bêcik martabate, sarta kang wruh ing hukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur olèh wong tapa, ingkang wus hamungkur, tan mikir pawèwèhing liyan, iku pantês sira guronana kaki, sartane kawruhana”.  

Terjemah bait tersebut : Apabila engkau ingin berguru, pilihlah manusia yang nyata, yang bermartabat baik, dan yang mengerti hukum, yang beribadah dan sederhana, syukur terlebih mendapatkan guru seorang  pertapa,  yang telah lebih (ilmunya), dan tak lagi memikirkan pemberian orang,  sosok seperti itu pantas engkau jadikan guru dan pantas diminta petunjuknya.


Menurut pemahaman kami, bait tembang tersebut memiliki dua mata pisau atau dua target yang dituju sebagai sasaran. Sekilas, nampak bait tersebut merupakan  (1) nasihat  untuk anak atau seorang siswa yang akan belajar mencari ilmu, kepada siapa yang pantas untuk dijadikan guru. Seorang siswa hendaknya jangan tergesa-gesa dan gegabah dalam mengambil/ mengangkat seorang menjadi guru. Seorang siswa hendaknya mengambil atau menjadikan seseorang sebagai gurunya bukan karena fisiknya yang gagah, tampan, cantik maupun anggun yang selalu tampil rapi dan keren. Bukan pula karena orang tersebut mahir/ menguasai satu disiplin ilmu tertentu yang membuat murid terpukau kagum. Bukan pula karena orang tersebut kaya raya sering memberi bahkan menuruti apa yang menjadi kebutuhan atau keinginan sang murid. Hal ini menjadi suatu pengingat bahwa tidak semua orang bisa dijadikan sosok panutan atau guru yang akan memberikan contoh dan membimbingnya ke jalan keutamaan. Mengapa demikian...??? Kerena cukup banyak kejadian atau kasus yang bersangkut paut dengan oknum guru di berbagai negeri, termasuk negeri kita. Ada oknum guru yang ternyata malah berbuat yang tidak terpuji, berbuat asusila kepada anak didiknya, berselingkuh, ada oknum guru yang malah merendahkan pekerjaan wali murid, ada yang mengorupsi dana pendidikan sekolah, ada yang sering berkata kotor/ tidak pantas dihadapan murid, wali murid, atau sesama guru, bahkan ada oknum guru yang memukul atau menganiaya anak didiknya tanpa alasan yang jelas, dan masih banyak lagi kasus yang dilakukan oleh seseorang yang berprofesi sebagai guru. Maka sosok yang pantas dijadikan sebagai guru tentu harus memilili kriteria khusus agar tujuan siswa berguru bisa tercapai sesuai harapan.

Bagi para guru, bait diatas dapat dijadikan contoh pedoman untuk menjadi seorang guru yang baik, dan dapat menjadi contoh untuk  anak didiknya. Dengan kata lain, hakikat isi bait  tembang tersebut ditujukan untuk target kedua  (2) yakni seorang guru. Seorang guru yang baik, ideal, dan professional serta pantas dijadikan sebagai panutan setidaknya perlu  memiliki 7 (tujuh) karakter, yaitu:

  1. Beraklaq mulia. Baik mulia perilaku perbuatannya, ramah beradap, memiliki tata krama, sopan santun kepada siapapun yang ia temui
  2. Paham dan sadar hukum. Mengetahui serta paham terhadap hukum yang berlaku yang harus ditaati dan dijunjung tinggi, mau juga mampu mengaplikasikan dalam kehidupan, baik hukum agama, negara maupun adat;
  3. Rajin beribadah. Ibadah wajib maupun sunnah ia laksanakan, dan senang menolong sesama;
  4. Memiliki rasa malu dan selalu menjaga kebersihan hati sanubari, senang berpuasa, mengurangi kebutuhan duniawi (zuhud);
  5. Dapat mengendalikan hawa nafsu. Yakni mengelola serta mengendalikan/ menahan hawa nafsu yang tidak baik, mengesampingkan perbuatan tidak baik yang akan mendzolimi dirinya maupun orang lain
  6. IKhlas bertugas. Senantiasa menata niat dan hatinya untuk berupaya ikhlas, tidak mengharapkan pemberian orang lain dalam bentuk apapun,
  7. Memberi sekaligus menjadi teladan. Selain tulus ikhlas dalam mendidik para siswa, guru haruslah sepi ing pamrih rame ing gawe, maksudnya banyak memberikan contoh keteladanan,  banyak take action dan tindakan nyata daripada bertutur teori  saja.

Demikianlah karakter sosok guru  atau pendidik dalam perspektif serat Wulangreh, bila seorang guru mau berkaca sekaligus belajar memahami apa yang tertuang dalam serat ini, niscahya ia akan menjadi "guru sejati" yang akan  selalu menginspirasi kebaikan karena keteladanan yang ia berikan kepada murid, ia juga akan membina serta membimbing siswa/ murid menuju jalan keutamaan dan menjauhi jalan kesesatan, ia juga akan banyak mencetak generasi penerus yang unggul dalam berbagai bidang, yang akan menjadi ujung tombak perjuangan mewujudkan kemajuan, kesejahteraan, serta kejayaan bangsa dan negara.



__________________

Oleh : Iin Solikhin, 
Anggota Paguyuban Seni Macapat MULYA LARAS Malangan Giwangan UH Yk
Pengajar di Pondok Pesantren Al-Muyamman Yogyakarta - Giwangan Yk
Pengajar Ismuba/ PAI dan Bahasa Jawa PPM MBS Pleret Bantul Yogyakarta
Pengajar di Pondok Pesantren Darul Mushlihin Pusat - Jurugentong Banguntapan Bantul