Jumat, 19 Januari 2024

 


TARHIB RAMADHAN -1 (BULAN ROJAB)

Rajab biasa juga disebut 'Al-Ashabb' (الأصب) yang berarti 'yang mengucur atau menetes.Dijuluki demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Rajab juga disebut 'Al-Ashamm' (الأصم) atau 'yang tuli', tidak boleh ada bunyi senjata perang. Rajab adalah 'Rajam' (رجم) yang berhak melempari setan sebagai bukti kita untuk mereka.

PERISTIWA BULAN ROJAB

1. Hijrah pertama kali. Ke  Habasyah (Ethiopia) tahun : ke-5 Kenabian

2. Rosul memenangkan  perang Tabuk (muslim vs Romawi). Pasukan muslim berjumlah 30 rb, berjalan  dr Madinah menuju Syam. tahun : 630 Masehi / 9 H

3. Raja Najasyi (Ansor Habasyah) meninggal dunia. Pd tahun 9 H

Nabi dan para sahabat lakukan sholat ghoib di Madinah.

4. Pembebasan Al-Quds Baitul Maqdis terjadi pada 2 oktober 1186, yaitu bertepatan dengan 27 Rajab tahun 583 H/ Salahuddin Al-Ayubi memukul mundur tentara Salib.

5. Peristiwa Agung Isra Mi'raj Nabi. 27 Rajab Tepatnya pada tahun ke-10 kenabian. Bisa dibaca dalam buku “Ar-Rahiiq Al-Makhtuum”

6. Syariat Sholat 5 waktu

7. Dinasti/ Kekholifahan Islam Berakhir. Kerajaan Ottoman di tumbangkan oleh Mustafa kemal Attaturk. Tepatnya pada 28 Rajab tahun 1342 Masehi. Dirubah dr monarki menjadi Republik Turkey. Hukum Syariat diubah menjadi hukum barat. Bahasa Arab di marginalkan, adzan dg bahasa daerah/ Turkey. Hijab diawasi dibatasi. dll.

AMALAN DAN DOA ROJAB

Berikut nukilan doa tersebut dalam kitab Al-Adzkar Karya Imam An-Nawawi :

وروينا في حلية الأولياء : عن زياد النميري عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : “اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَانَ”، ورويناه أيضاً في كتاب ابن السني بزيادة.

 

Artinya, “Kami riwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya, bersumber dari Ziyad An-Numairi dari Anas bin Malik RA. Ia berkata, ‘Rasulullah Saw ketika memasuki bulan Rajab berkata :

اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَان

Allohumma Baarik lanaa Fii Rojaba wa Sya'baana wa Ballighnaa Romadhoona

Yaa Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban. Dan Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.’ Riwayat serupa juga kami riwayatkan dari kitab Ibnus Sinni dengan sedikit tambahan redaksi.”

Ziyadah dalam Doa ...

و انزل الرحمة والبركة في ديننا ودنيانا واخرنا... (آمين

Wa Anzilir Rohmata wal Barokata, Fii Diininaa wa Dunyaanaa wa Ukhronaa...

Dan turunkanlah rohmah dan Barokah dalam  Urusan Agama kami, dalam urusan kehidupan dunia kami, dan dalam urusan kehidupan  keabadian akhirat kami (Aamiin)

Rabu, 02 Rojab  1441 H

#Al-Muyamman 2020


Senin, 08 Januari 2024

TASHOWUF

 


*JIHAD MELAWAN NAFSU DIRI*





Mangrurah Satru Murka, Mangrurah Satru Sekti : memberantas musuh angkara murka, membasmi musuh yang sangat sakti. 

Ternyata musuh yg sakti dan angkara murkaitu tiada lain adalah diri sendiri alias hawa nafsu.

***[Cuplikan dialog Harjuna dg Semar dalam lakon Baratayuda, chapter : Guru Durna Gugur]


Maka Rosulullah pun memberikan wasiat : 

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad atau berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr)


Perlu kita ingat perintah Allah SWT dalam kalam-Nya :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

_“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69)._


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah :

(1) menjihadi diri sendiri,

(2) menjihadi hawa nafsu,

(3) menjihadi setan, 

(4) dan menjihadi dunia."


Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.


Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.