Kamis, 16 April 2015

Mengenal Mulya Laras

Paguyuban Seni Sekar Macapat Mulya Laras Mijil saking Dusun Malangan RW XIII Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakartata.

 PAGUYUBAN MACAPAT 
MULYA LARAS MALANGAN

Berawal dari keinginan sesepuh dan beberapa warga "Sutresna Budaya Jawa" ingin melestarikan seni budaya jawa, khususnya seni sekar macapat, maka pada tahun 1980-an dibentuklah paguyuban kesenian Macapatan yang diberi nama "MULYA LARAS".  Asma Kinarya Japa kata pepatah Jawa, bahwasanya sebuah nama itu merupakan harapan dan cerminan  dari sang pemberi nama untuk yang diberinama tersebut. Dari nama paguyuban ini diketahui harapan kedepan untuk paguyuban ini, MULYA bermakna luhur, terhormat, hidup enak. Sedangkan LARAS memiliki arti Lurus, sesuai irama, dan tidak mlenceng, Maka makna dan harapan dari MULYA LARAS adalah : diharapkan kesenian macapat ini akan tetap ada, lestari, luhur mendunia serta sesuai dengan irama dan kehidupan. Lalu bagi anggota maupun pelaku seni di Mulya Laras, diharap akan menjadi pribadi yang mulia (terhormat) tidak berlaku dosa maksiat serta lurus sesuai fithoh penciptaannya. Kurang lebih demikian.

Tahun 1980an Mulya Laras mulai berjalan pelan - pelan dan akhirnya bisa ajeg baik. Namun pada suatu ketika/ kondisi  Mulya Laras menghadapi berbagai faktor :
  • Sebagian anggota (kasepuhan) senior meninggal
  • Kesibukan masing - masing anggota akan pekerjaan/ keluarga saat itu
  • Masuknya budaya asing dg gencar dan cepat  yg membuat sebagian besar orang terpesona
  • Mungkin, "dimumkinkan"  adanya titik masa jemu, 
  • Kesulitan atau kekurangan  finansial/ dana operasional  paguyuban (efect Economic Crisist)
  • Keterbatasan materi/ atau bahan Pembelajaran Macapatan 
  • Keterbatasan SDM maupun Guru Pembimbing (Dwija)
  • dan lainnya
Hingga akhirnya tahun 1997an Mulya Laras stagnan alias macet.

17 tahun kemudian, tepatnya Pada Hari Selasa Pon malam Rabu Wage, tanggal 12 Agustus 2014 Masehi. Bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1435 Hijriyah/ 1947 Alip tahun Jawa, muncullah keinginan menghidupkan kembali paguyuban macapat. dan akhirnya disepakati adanya perkumpulan di rumah Bapak LPMK kelurahan Giwangan yakni Bp. M. Shofwan, S,Sos untuk membentuk paguyuban macapat. Dan disepakati munculah paguyuban macapat namun tanpa/ belum ada nama. Pada akhirnya sepakat menggunakan nama yang dulu yakni MULYA LARAS generasi ke -2, dengan tetap bertumpu serta mengacu pada ADART, maupun aturan baku paguyuban MULYA LARAS Generasi ke-1, seperti :

  1. Jadwal rutin latihan (Gladhen) disepakati sekali dalam sepekan, yakni setiap hari Selasa malam Rabu, jam 20:00 WIB. 
  2. Untuk mendukung jalannya keorganisasian/ paguyuban, maka disepakati adanya iuran anggota setiap kali gladhen maupun latihan, ditentukan Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah). 
  3. Disepakati akan membuat beberapa program, antara lain akan mengadakan pembuatan seragam paguyuban. dll.
Paguyuban Mulya laras generasi ke-2 beranggotakan lumayan, yakni kisaran 20an orang. dan disusunlah pengurus sbb :

SUSUNAN PENGURUS PAGUYUBAN SENI SEKAR MACAPAT
 “MULYA LARAS” 
RW XIII MALANGAN, KEL. GIWANGAN, KEC. UMBULHARJO KOTA YOGYAKARTA


Pelindung : Ketua RW XIII Malangan
Penasehat : H. Masam Sumarsono
Dosen/ Pemb. Luar Biasa : Siswoto Herupriyatno (Giwangan)
Ketua : Muhammad Shofwan
Sekretaris : Iin Sholihin
Bendahara : Tukirin
Pembimbing : Endro Utomo 
Humas : Syamsul Huda & Qori S
Perlengkapan : Sarwana & Subadi

Anggota
  1. Kardi Wiyarjo
  2. Muhammad Hakam
  3. Kuat Lestari
  4. Muhammad Zamzuri
  5. Mulyadi Herjun 
  6. Muji Banawi
  7. Kuwato
  8. Bambang HP
  9. H. Miswanto
  10. Teguh Sawaldi
  11. Sudaryanto


                                                                                                                Yogyakarta,  12  Agustus 2014

Ketua RW XIII Malangan                                                                                       Ketua Paguyuban


Muhammad Hakam, S.HI                                                                            Muhammad Shofwan, S.Sos






Tidak ada komentar:

Posting Komentar